Manajemen Tokopedia dan TikTok Shop secara tegas membantah isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang santer beredar pekan lalu. Kabar yang menyebutkan hingga 90% karyawan akan dirumahkan ini menarik perhatian publik, memicu kekhawatiran di kalangan pekerja dan pengamat industri teknologi. Executive Director of Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Stephanie Susilo, langsung memberikan bantahan resmi. Ia menegaskan tidak ada PHK di perusahaan tersebut. Pernyataan ini disampaikan Stephanie setelah pertemuan penting dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Menteri Ketenagakerjaan di Jakarta, memberikan klarifikasi yang banyak pihak nantikan. Penegasan ini muncul di tengah spekulasi intensif mengenai masa depan karyawan pasca-akuisisi TikTok atas Tokopedia dari GoTo.
Klarifikasi Resmi: TikTok Shop Tokopedia Bantah PHK Massal
Stephanie Susilo dengan lugas menyatakan, “Tidak ada pemutus hubungan kerja di TikTok atau Tokopedia Group.” Ia menjadikan penegasan ini inti dari klarifikasi yang ia berikan kepada publik pada Senin (6/7/2026). Stephanie menjelaskan bahwa perusahaan tengah melakukan penataan tenaga kerja dan internal mobility. Langkah strategis ini diambil untuk mengoptimalkan struktur organisasi pasca-akuisisi. Proses ini bertujuan memastikan efisiensi dan sinergi antara kedua entitas e-commerce raksasa tersebut. Dalam program penataan ini, beberapa karyawan memang memilih mengambil paket kompensasi. Mereka memiliki opsi mencari peluang baru di luar perusahaan atau disalurkan ke lingkungan grup bisnis TikTok Tokopedia. Perusahaan menawarkan fleksibilitas ini kepada karyawan dalam menghadapi perubahan internal, memberikan mereka kendali atas jalur karier. Jadi, alih-alih PHK, perusahaan justru menawarkan opsi transisi yang terstruktur.
Rekrutmen Karyawan Baru di Tengah Isu Restrukturisasi
Bertolak belakang dengan narasi PHK massal, Stephanie Susilo justru mengungkapkan bahwa perusahaan sedang aktif melakukan rekrutmen. “Saat ini kami juga melakukan rekrutmen untuk lebih dari 100 posisi di Indonesia,” ujarnya. Informasi ini secara signifikan meredakan spekulasi negatif yang beredar luas di media dan kalangan industri. Rekrutmen lebih dari seratus posisi baru ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus tumbuh dan mengembangkan operasionalnya di Indonesia, memperkuat ekosistem e-commerce nasional. Ini juga mengindikasikan bahwa restrukturisasi yang terjadi lebih berfokus pada penyesuaian peran dan kebutuhan, bukan pada pengurangan jumlah karyawan secara drastis. Posisi-posisi baru ini diharapkan dapat memperkuat tim di berbagai divisi, mulai dari teknologi, bisnis, hingga keamanan dan kepercayaan (trust and safety), seiring dengan dinamika pasar e-commerce yang terus berkembang pesat. Kehadiran karyawan baru ini akan mendukung inovasi dan peningkatan layanan bagi jutaan pengguna di seluruh Indonesia.

Latar Belakang Isu dan Kondisi Karyawan Pasca-Akuisisi
Sebelum bantahan resmi ini, isu PHK di Tokopedia memang sangat santer. Kabar beredar menyebutkan bahwa hingga 90% dari total karyawan Tokopedia akan terdampak. PHK terakhir menimpa lebih dari 450 karyawan di unit teknologi, seperti diungkapkan sebuah sumber internal yang tidak disebutkan namanya oleh CNBC Indonesia. Sebelum ByteDance mengakuisisi, unit teknologi Tokopedia memiliki sekitar 1.100 karyawan. Setelah gelombang PHK tersebut, jumlah karyawan di divisi teknologi dikabarkan tersisa sekitar 35 orang. Saat ini, dari sekitar 2.500 karyawan yang bekerja di Tokopedia setelah akuisisi TikTok dari GoTo, 10% di antaranya masih bekerja untuk posisi bisnis, trust and safety, dan teknologi. Perubahan signifikan dalam struktur karyawan ini memang memicu berbagai spekulasi dan kekhawatiran di pasar. Namun, dengan adanya klarifikasi dari manajemen, fokus kini beralih pada proses penataan dan rekrutmen yang sedang berjalan, menegaskan bahwa TikTok Shop Tokopedia Bantah PHK massal. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan ini, pembaca dapat mengunjungi artikel lengkapnya di sini.
Stephanie Susilo berharap pernyataan resminya membawa kejelasan dan menepis kekhawatiran yang muncul akibat isu PHK. Dengan adanya penataan tenaga kerja, internal mobility, dan bahkan rekrutmen lebih dari 100 posisi baru, TikTok Shop dan Tokopedia menunjukkan komitmennya untuk terus beroperasi dan berkembang di pasar Indonesia. Proses ini merupakan bagian dari adaptasi perusahaan terhadap perubahan kepemilikan dan strategi bisnis yang baru, yang bertujuan menciptakan ekosistem e-commerce yang lebih kuat dan berkelanjutan. Ke depan, dinamika pasar e-commerce akan terus menjadi perhatian, dan publik akan selalu mengawasi langkah-langkah strategis yang diambil oleh perusahaan-perusahaan besar seperti TikTok Shop Tokopedia. Pembaca yang ingin memahami konteks lebih dalam dapat merujuk pada laporan awal mengenai isu ini yang telah dipublikasikan oleh CNBC Indonesia.