Jakarta, CNBC Indonesia — Dinamika bisnis antara konglomerat Prajogo Pangestu dan Hapsoro semakin menunjukkan sinergi yang erat melalui serangkaian aksi korporasi terbaru. PT Petrosea Tbk (PTRO), entitas yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, kini resmi menjadi pemegang saham signifikan di PT Singaraja Putra Tbk (SINI), perusahaan milik Hapsoro. Langkah strategis ini terjadi menyusul akuisisi besar yang SINI lakukan terhadap PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PTRO, yang kemudian diikuti oleh pembelian saham SINI oleh PTRO.
Hubungan kedua belah pihak tidak hanya berhenti pada transaksi jual beli aset. Penandatanganan perjanjian jasa pertambangan bernilai fantastis memperkuat kemitraan ini, mengindikasikan kolaborasi jangka panjang dalam sektor pertambangan batu bara. CNBC Indonesia melaporkan peristiwa penting ini pada Senin, 27 Juli 2026, menandai babak baru dalam lanskap bisnis kedua konglomerat tersebut.
Akuisisi Strategis dan PTRO Kini Pemegang Saham SINI
Pada sebuah langkah yang menarik perhatian pasar, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) telah menyelesaikan akuisisi 99,995% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS). Akuisisi ini, yang sebelumnya merupakan milik PT Petrosea Tbk (PTRO), mencapai nilai transaksi sekitar Rp1,73 triliun. Dengan selesainya transaksi ini, SINI secara efektif menjadi pemegang saham pengendali KMS, memperluas jejaknya di sektor pertambangan.
Tidak lama setelah akuisisi tersebut, PTRO justru masuk menjadi salah satu pemegang saham terbesar SINI. Pada tanggal 23 Juli 2026, PTRO melakukan pembelian 239,105 juta saham SINI dengan harga Rp5.000 per saham. Pembelian ini secara signifikan meningkatkan kepemilikan Petrosea di SINI, dari sebelumnya hanya 1,212 juta saham atau 0,25% menjadi 239,105 juta saham, yang setara dengan 19,88% dari total saham SINI. Transaksi ini menegaskan posisi PTRO sebagai investor kunci dalam struktur kepemilikan SINI.
Tujuan Investasi dan Pergerakan Investor Lain di SINI
Keterbukaan informasi pada Senin, 27 Juli 2026, menyebutkan PTRO melakukan transaksi pembelian saham SINI untuk tujuan investasi. Langkah ini menunjukkan kepercayaan PTRO terhadap prospek pertumbuhan SINI ke depan. Sementara itu, SINI sendiri melakukan akuisisi KMS untuk memperluas bisnis pertambangan batu bara perseroan. Ekspansi ini diharapkan dapat memberikan dorongan signifikan bagi kinerja SINI di masa mendatang.
Selain PTRO, sejumlah investor lain juga menambah kepemilikan mereka di SINI pada hari yang sama. Autum Prima Indonesia, misalnya, membeli tambahan 60 juta saham, sehingga kepemilikannya meningkat dari 30% menjadi 16,99% setelah aksi korporasi Perseroan. Pasar mencatat bahwa Ever Grace International Trading Limited juga masuk sebagai pemegang 90 juta saham atau 7,48%, sementara PT Deli Indonesia Raya membeli 30 juta saham atau 2,49%. Pergerakan investor ini menunjukkan minat yang kuat terhadap potensi SINI di pasar. Pembaca dapat menemukan informasi lebih lanjut mengenai transaksi ini dalam laporan CNBC Indonesia.
Kemitraan Jasa Pertambangan: Proyek Bernilai Triliunan
Rangkaian transaksi kepemilikan saham dan akuisisi ini berlangsung beriringan dengan penandatanganan perjanjian jasa pertambangan yang substansial. Perjanjian tersebut melibatkan dua anak usaha SINI, yakni PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), dengan PT Petrosea Tbk (PTRO). Dalam kesepakatan ini, Petrosea akan memikul tanggung jawab untuk mengerjakan kegiatan pengupasan lapisan penutup dan penambangan batu bara selama umur tambang (life of mine).
Analis memperkirakan potensi nilai pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Petrosea mencapai sekitar Rp57 triliun. Angka ini terdiri dari sekitar Rp45,57 triliun untuk proyek PBC dan Rp11,48 triliun untuk proyek CBP. Skala proyek ini menegaskan bahwa hubungan antara SINI dan Petrosea melampaui sekadar transaksi jual beli aset. Ini adalah sebuah kemitraan strategis yang mendalam, yang berpotensi menciptakan nilai jangka panjang bagi kedua belah pihak. Kemitraan ini menunjukkan bagaimana PTRO kini pemegang saham SINI bukan hanya sebagai investor, tetapi juga sebagai mitra operasional utama. CNBC Indonesia pertama kali melaporkan berita ini pada 27 Juli 2026, dan pembaca dapat mengaksesnya di sini.
Secara keseluruhan, serangkaian aksi korporasi ini menggambarkan penguatan signifikan dalam hubungan bisnis antara Prajogo Pangestu dan Hapsoro. Dari akuisisi strategis hingga kemitraan operasional bernilai triliunan rupiah, kedua konglomerat ini tampaknya berkomitmen untuk membangun sinergi yang kuat di sektor pertambangan. Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan ini, mengingat implikasinya terhadap peta persaingan industri dan kinerja perusahaan-perusahaan terkait.