Gambar thumbnail generate AI. Foto asli Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ani Hairani
Yogyakarta, 13 Juli 2026 – Ancaman krisis air bersih semakin nyata di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan akan melanda hingga Agustus mendatang. Menanggapi situasi ini, seorang pakar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyerukan langkah proaktif. Ani Hairani, Dosen Teknik Sipil UMY, menekankan urgensi mitigasi berbasis konservasi air sebagai strategi yang efektif. Penekanan ini muncul di tengah penetapan status siaga darurat kekeringan di dua kabupaten di DIY, yakni Bantul dan Gunungkidul, yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat.
Konservasi Air di Tingkat Rumah Tangga: Fondasi Mitigasi Kekeringan
Ani Hairani menegaskan bahwa upaya mitigasi berbasis konservasi air harus dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat: rumah tangga. Konsep ini sederhana namun memiliki dampak signifikan. Ia menjelaskan bahwa air hujan, yang seringkali langsung mengalir ke saluran drainase, sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. Sebaliknya, masyarakat perlu mengupayakan agar air hujan meresap kembali ke dalam tanah atau menampungnya untuk dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini bukan hanya tentang penghematan, melainkan juga tentang pembangunan ketahanan air jangka panjang.
Masyarakat dapat mengadopsi berbagai teknik konservasi air yang relatif mudah mereka terapkan. Ani Hairani merekomendasikan pembangunan lubang biopori sebagai salah satu metode. Lubang biopori berfungsi sebagai resapan air yang membantu meningkatkan cadangan air tanah dan mengurangi genangan. Selain itu, pembangunan sumur resapan juga menjadi pilihan strategis, terutama di area perkotaan yang padat. Untuk skala yang lebih besar di tingkat rumah tangga, masyarakat dapat mengimplementasikan sistem pemanenan air hujan atau rainwater harvesting. Sistem ini memungkinkan penampungan air hujan untuk berbagai keperluan non-konsumsi, seperti menyiram tanaman atau mencuci. Ani Hairani menilai langkah-langkah ini sangat efektif dalam menjaga ketersediaan cadangan air tanah, bahkan saat puncak musim kemarau yang ekstrem.
Peran Perubahan Iklim dan Alih Fungsi Lahan dalam Memperparah Kekeringan
Ani Hairani, yang merupakan pakar di bidang Teknik Keairan dan Lingkungan, menyoroti bahwa pola curah hujan musiman tidak lagi semata-mata memicu ancaman kekeringan saat ini. Fenomena kekeringan kini diperparah oleh dampak perubahan iklim global yang semakin terasa. Perubahan iklim menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya. Ini meningkatkan laju penguapan air dari permukaan tanah dan badan air, serta memicu pergeseran musim yang tidak menentu. Kondisi ini secara langsung mengganggu perencanaan dan pengelolaan sumber daya air yang telah ada.
Ia menambahkan, siklus hidrologi menjadi tidak menentu akibat perubahan iklim. Curah hujan yang tidak teratur dan intensitas yang berubah-ubah membuat prediksi ketersediaan air semakin sulit. Selain itu, masalah alih fungsi lahan juga turut memperburuk kondisi. Banyak kawasan resapan air alami yang kini telah berubah menjadi permukiman atau infrastruktur lain. Akibatnya, tanah tidak dapat menyimpan air hujan dengan baik sebagai cadangan air tanah, melainkan air langsung mengalir ke permukaan dan terbuang. Ini adalah tantangan ganda yang membutuhkan solusi komprehensif, di mana mitigasi berbasis konservasi air menjadi salah satu pilar utamanya. Pembaca dapat menemukan informasi lebih lanjut mengenai pentingnya konservasi air pada berita terkait di Antara News.
Mengenali Tiga Jenis Kekeringan dan Urgensi Mitigasi Berbasis Konservasi Air
Untuk menghadapi ancaman kekeringan secara efektif, masyarakat perlu memahami berbagai jenis kekeringan yang mungkin terjadi. Ani Hairani merinci tiga kategori utama kekeringan yang masyarakat patut waspadai. Pertama adalah kekeringan meteorologis, yang terjadi akibat kurangnya curah hujan dalam periode waktu tertentu. Masyarakat paling umum mengenali jenis kekeringan ini dan seringkali menjadikannya indikator awal.
Kedua, kekeringan hidrologis, yang menunjukkan penurunan muka air tanah, volume air di sungai, dan danau. Kekeringan jenis ini merupakan dampak lanjutan dari kekeringan meteorologis yang berkepanjangan dan sangat mempengaruhi ketersediaan air baku. Ketiga adalah kekeringan pertanian, yang secara langsung mengancam ketahanan pangan. Kekeringan pertanian terjadi ketika kelembaban tanah tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Hal ini menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi yang besar bagi petani.
Mengingat kompleksitas dan dampak luas dari berbagai jenis kekeringan ini, upaya mitigasi berbasis konservasi air menjadi semakin mendesak. Konservasi air bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga setiap individu. Dengan menerapkan praktik konservasi di rumah dan mendukung kebijakan yang berpihak pada lingkungan, masyarakat dapat berkontribusi signifikan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Pemerintah dan masyarakat berharap langkah-langkah ini dapat menekan risiko krisis air bersih dan memastikan ketersediaan air untuk generasi mendatang. Antara News juga telah melaporkan berita serupa mengenai penekanan mitigasi ini. Baca selengkapnya di sini.