Amerika Serikat (AS) dilaporkan memiliki kecurigaan serius terhadap Israel. Washington meyakini Tel Aviv sedang merencanakan pembunuhan terhadap negosiator kunci Iran di tengah upaya intensif untuk mencapai perdamaian abadi. Kekhawatiran AS meningkat tajam selama negosiasi gencatan senjata antara kedua negara. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf disebut-sebut sebagai target utama dalam dugaan rencana tersebut. Sumber-sumber yang dekat dengan situasi ini mengungkapkan bahwa AS bahkan telah meminta negara-negara di Timur Tengah untuk mewanti-wanti Iran mengenai potensi ancaman terhadap Araghchi dan Ghalibaf. Pejabat AS meyakini pembunuhan negosiator Iran, jika terjadi, akan mengakhiri pembicaraan damai dan menyulut pertempuran yang lebih luas di kawasan. Washington sangat menghindari skenario ini, mengingat dampak destabilisasi yang mungkin timbul.
Meningkatnya Kecurigaan AS Israel di Tengah Negosiasi Krusial
Kekhawatiran AS mengenai rencana Israel ini telah menjadi sorotan utama di tengah dinamika kompleks di Timur Tengah. Araghchi dan Ghalibaf memegang peran kunci saat Iran bernegosiasi dengan AS maupun negara di kawasan Timur Tengah untuk mencapai gencatan senjata hingga perdamaian abadi. Peran mereka sebagai jembatan diplomatik sangat penting dalam meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama. Selama fase intens perang, para pejabat AS mengakui kedua negosiator Iran tersebut bisa menjadi target sah bagi Israel. Namun, saat perundingan sedang diupayakan, membunuh negosiator akan memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar, berpotensi menggagalkan seluruh proses diplomatik.
AS dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata pada April lalu selama dua pekan, kemudian memperpanjangnya tanpa batas waktu. Perpanjangan ini memberikan secercah harapan bagi stabilitas regional. Meskipun demikian, di tengah masa gencatan senjata ini, AS masih kerap menggempur militer Iran di dekat Selat Hormuz, menunjukkan ketegangan militer belum sepenuhnya mereda. Kemudian, pada awal Juni, AS dan Iran menandatangani sebuah nota kesepahaman (MoU). Mereka berharap MoU ini menjadi kerangka kerja untuk betul-betul mengakhiri perang. MoU tersebut mencakup pemberian waktu 60 hari bagi kedua negara untuk melanjutkan negosiasi. Periode 60 hari ini adalah masa krusial di mana setiap tindakan provokatif, terutama pembunuhan pejabat tinggi, dapat menggagalkan seluruh proses dan memicu eskalasi yang tidak diinginkan. Kecurigaan AS Israel ini menambah lapisan kompleksitas pada upaya perdamaian yang sudah rapuh.
Dampak Potensial Terhadap Stabilitas Kawasan dan Pasar Energi
Implikasi dugaan rencana pembunuhan ini tidak hanya membatasi diri pada meja perundingan, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas kawasan dan pasar energi global secara signifikan. Pejabat AS meyakini tindakan semacam itu akan secara langsung mengakhiri seluruh pembicaraan damai dan memicu eskalasi konflik yang lebih luas, dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi. Di sisi lain, pasar global menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan di Timur Tengah, terutama terkait pasokan minyak.
Harga minyak dunia, misalnya, menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Jumat (3/7/2026) pagi, setelah mencapai level terendah sejak pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan upaya perdamaian di Timur Tengah karena berpotensi menjaga kelancaran pasokan energi global. Fluktuasi terbatas ini muncul setelah volatilitas tinggi akibat konflik mulai mereda, seiring harapan AS dan Iran dapat mempertahankan kesepakatan damai sementara. Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari, kini beroperasi kembali, memulihkan distribusi energi. Produksi minyak Kuwait melonjak menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni, dari sekitar 580 ribu barel per hari pada Mei, setelah negara tersebut meningkatkan ekspor pasca-kesepakatan damai sementara AS-Iran. Saudi Aramco juga mengubah sebagian skema penjualannya ke harga spot guna mempercepat distribusi minyak ke pasar Asia. Ini menunjukkan betapa krusialnya upaya perdamaian ini bagi stabilitas ekonomi global, dan bagaimana setiap gangguan dapat memicu gejolak pasar yang serius. Perdamaian AS-Iran menjadi kunci bagi kelancaran pasokan energi global.
Latar Belakang Target dan Peringatan Sebelumnya
Israel memang menargetkan sejumlah pejabat Iran sejak awal perang, menganggap mereka sebagai ancaman terhadap keamanannya. Namun, rencana membunuh negosiator di tengah perundingan damai ini menimbulkan kekhawatiran yang jauh lebih besar, karena banyak pihak dapat menganggapnya sebagai sabotase terhadap upaya diplomatik. Pada April lalu, Wall Street Journal melaporkan bahwa Israel memasukkan Araghchi dan Ghalibaf ke dalam daftar target pembunuhan. Laporan ini mengindikasikan rencana tersebut bukanlah sesuatu yang baru, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas.
Salah satu pejabat AS dan negara kawasan menyebutkan, pemerintahan Trump mengetahui Ghalibaf ada dalam daftar tersebut. Mereka kemudian meminta Israel menahan diri dari tindakan semacam itu, menyadari potensi dampaknya yang merusak. Israel tampaknya berambisi mengincar ketua parlemen itu, mengingat posisinya yang strategis dalam struktur kekuasaan Iran dan perannya dalam negosiasi. Tiga pejabat senior Iran juga mengonfirmasi Ghalibaf sebagai target utama, memperkuat laporan intelijen AS. Situasi ini menggarisbawahi ketegangan yang mendalam dan risiko tinggi yang menyertai setiap langkah diplomatik di kawasan tersebut, di mana garis antara perang dan perdamaian sangat tipis.