Jakarta – Keputusan pemerintah Indonesia untuk tidak mengirimkan delegasi khusus ke prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu sorotan tajam dari kalangan akademisi. Pakar menilai langkah ini berpotensi mengikis konsistensi politik luar negeri Indonesia yang berpegang pada prinsip bebas aktif. Absensi delegasi Indonesia di pemakaman Khamenei menjadi perbincangan, mengingat pentingnya menjaga keseimbangan diplomasi dalam kancah internasional.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, secara tegas menyatakan bahwa Indonesia sepatutnya mengirimkan perwakilan resmi ke Iran. Menurutnya, pengiriman delegasi akan membuktikan bahwa Indonesia teguh menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Sebaliknya, pihak lain dapat menafsirkan absennya perwakilan sebagai bentuk keberpihakan terhadap salah satu blok kekuatan. Interpretasi ini bertentangan dengan semangat dasar diplomasi Indonesia. Hikmahanto mengingatkan kembali amanat Presiden pertama Soekarno. Soekarno menyerukan pengakhiran kekuatan imperialis dari Eropa dan Amerika Serikat. Ia juga menegaskan bahwa semua negara harus memiliki kedudukan yang setara.
Lebih lanjut, Hikmahanto berpandangan bahwa Iran adalah pihak yang menderita ketidakadilan dalam konflik yang sedang berlangsung. Ia menilai Iran bukanlah pihak yang memulai perang. Sebaliknya, Hikmahanto menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai pemicu eskalasi konflik. Bahkan, negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO menolak upaya mantan Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Iran. Pertanyaan pun muncul: mengapa Indonesia tidak memihak pihak yang menderita ketidakadilan? Ini menjadi poin krusial dalam diskusi mengenai absensi delegasi Indonesia di pemakaman Khamenei.
Sorotan Pakar atas Absensi Delegasi Indonesia di Pemakaman Khamenei
Keputusan pemerintah untuk tidak mengirimkan delegasi khusus juga berpotensi memicu persepsi negatif di dalam negeri. Masyarakat dapat mempertanyakan komitmen Indonesia terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kemandirian dalam berpolitik luar negeri. Konsistensi dalam menjalankan prinsip bebas aktif, yang seharusnya menjadi pedoman utama, kini dipertaruhkan.
Sementara itu, prosesi pemakaman Ali Khamenei sendiri telah resmi dimulai pada Jumat, 3 Juli. Delegasi resmi dari berbagai negara menghadiri acara ini. Kehadiran delegasi asing ini semakin menyoroti keputusan Indonesia yang memilih untuk tidak mengirimkan perwakilan khusus. Momen tersebut sangat penting bagi Iran dan para sekutunya.
Konsistensi Politik Luar Negeri dan Persepsi Internasional
Pada Senin, 6 Juli, Iran mengambil langkah signifikan dengan menutup penuh ruang udaranya untuk prosesi pemakaman utama Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas menghentikan total seluruh penerbangan selama hari tersebut, seperti yang kantor berita ISNA laporkan. Penutupan ini mencakup Bandara Internasional Mehrabad Teheran dan Bandara Internasional Imam Khomeini. Operasional kedua bandara itu ditangguhkan untuk menghormati upacara yang berlangsung di ibu kota. Langkah ini menunjukkan skala dan pentingnya acara pemakaman bagi Iran. Pembaca dapat menemukan informasi lebih lanjut mengenai penutupan ruang udara ini dalam laporan CNN Indonesia.
Menurut jadwal yang Organisasi Penerbangan Sipil Iran umumkan, Bandara Mehrabad akan kembali beroperasi normal pada Selasa, 7 Juli. Namun, otoritas tetap menutup Bandara Imam Khomeini. Prosesi pemakaman utama berlangsung di Teheran pada Senin, kemudian berlanjut ke Kota Qom pada Selasa. Selanjutnya, pada 8 Juli, prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung di Baghdad, Najaf, dan Karbala. Di kota-kota suci Syiah ini, tokoh-tokoh agama dan politik akan menerima jenazah Ali Khamenei. Mereka kemudian akan memindahkannya ke tempat-tempat suci lainnya.
Dinamika Pemakaman dan Implikasi Geopolitik
Puncak prosesi pemakaman dan penguburan sementara akan berlangsung pada 9 Juli di Makam Imam Reza. Ini adalah salah satu situs suci Syiah utama di Iran. Kita tidak bisa melepaskan konteks wafatnya Ali Khamenei dari dinamika geopolitik. Ia tewas pada 28 Februari lalu akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kematiannya memicu perang panas di Timur Tengah. Perang ini berdampak signifikan pada kenaikan harga minyak dunia. Sorotan terhadap absensi delegasi Indonesia di pemakaman Khamenei menjadi semakin relevan dalam konteks gejolak regional ini.
Dengan demikian, keputusan Indonesia untuk tidak mengirimkan delegasi khusus ke pemakaman Ali Khamenei bukan sekadar isu protokoler biasa. Ini adalah cerminan dari bagaimana Indonesia menavigasi kompleksitas hubungan internasional. Ini juga menunjukkan bagaimana Indonesia menjaga konsistensi prinsip politik luar negerinya. Kritik dari pakar seperti Hikmahanto Juwana, yang informasinya dapat pembaca temukan lebih lanjut di CNBC Indonesia, menggarisbawahi pentingnya setiap langkah diplomatik. Langkah-langkah ini membentuk persepsi global dan domestik terhadap posisi Indonesia di panggung dunia.