Gambar thumbnail generate AI
Sebuah temuan mengejutkan dari Lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) baru-baru ini mengungkap adanya ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat Indonesia terhadap situasi politik di tanah air. Dalam studi terbaru mereka, SMRC menemukan bahwa hanya sebagian kecil publik yang menganggap Kondisi Politik Nasional Baik atau sangat baik. Secara spesifik, hanya 13,5 persen responden yang memberikan penilaian positif tersebut, sebuah angka yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki pandangan negatif.
Sebaliknya, mayoritas responden justru menyatakan pandangan yang kurang optimis. Sebanyak 42,8 persen publik menilai kondisi politik saat ini buruk atau sangat buruk. Angka ini menandai lonjakan signifikan dalam persepsi negatif dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya. Studi yang bertajuk “Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden” ini SMRC lakukan dalam rentang waktu 5-19 Juli 2026. Hasilnya memberikan gambaran terkini mengenai sentimen publik terhadap dinamika politik di Indonesia, menyoroti tantangan serius yang dihadapi oleh para pemangku kepentingan dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Penurunan Persepsi Positif terhadap Kondisi Politik Nasional Baik
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa selama sembilan bulan terakhir, terjadi penurunan drastis dalam persepsi positif warga atas kondisi politik. Tren ini menunjukkan adanya erosi kepercayaan publik yang berkelanjutan terhadap arah politik negara. Pada November 2025, SMRC masih mencatat persepsi positif terhadap Kondisi Politik Nasional Baik di angka 35,8 persen. Angka ini mencerminkan tingkat optimisme yang jauh lebih tinggi pada waktu itu.
Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama. Angka persepsi positif kemudian menurun menjadi 27,1 persen pada survei yang SMRC laksanakan antara Februari dan Maret 2026. Penurunan ini sudah menjadi sinyal awal adanya pergeseran sentimen publik. Puncaknya, pada Juli 2026, persentase ini semakin merosot tajam hingga mencapai 13,5 persen. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan indikasi kuat adanya ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat terhadap kinerja dan arah politik nasional.
Persepsi negatif atas situasi politik ini juga melonjak signifikan dalam periode yang sama. Dari hasil survei pada November 2025 yang menunjukkan angka 23 persen untuk kategori buruk atau sangat buruk, kini persepsi negatif telah mencapai 42,8 persen. Perubahan drastis ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi oleh pemangku kepentingan politik dalam membangun kembali kepercayaan publik. Informasi lebih lanjut mengenai temuan ini dapat ditemukan pada laporan lengkap SMRC yang tersedia di sumber Tempo.co, yang memberikan analisis mendalam tentang faktor-faktor di balik pergeseran sentimen ini.
Rincian Angka Persepsi Publik atas Kondisi Politik Nasional Baik
Deni Irvani merinci lebih lanjut hasil survei SMRC, memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana publik menilai berbagai aspek kondisi politik. Ketika SMRC meminta warga untuk menilai kondisi politik nasional secara umum, hanya 1,7 persen yang menyatakan “sangat baik”. Sementara itu, 11,8 persen responden menilai “baik”. Jika kedua kategori ini digabungkan, total persentase yang menganggap Kondisi Politik Nasional Baik atau sangat baik adalah 13,5 persen, sebuah angka yang sangat rendah dalam konteks penilaian publik terhadap pemerintahan.
Sebagian besar responden, yakni 33,6 persen, berada di kategori “sedang”, menunjukkan adanya ambivalensi atau ketidakpastian dalam penilaian mereka. Kategori ini seringkali mencerminkan sikap menunggu dan melihat, atau kurangnya keyakinan yang kuat baik positif maupun negatif. Namun, angka yang paling mencolok adalah persentase mereka yang menilai buruk. Sebanyak 31,7 persen responden menilai kondisi politik saat ini “buruk”, dan 11,1 persen lainnya menilai “sangat buruk”. Jika digabungkan, total 42,8 persen publik memiliki pandangan negatif yang kuat terhadap situasi politik, sebuah angka yang hampir tiga kali lipat dari mereka yang berpandangan positif.
Selain itu, terdapat 10,2 persen responden yang menyatakan “tidak tahu” atau “tidak menjawab”. Persentase ini mengindikasikan bahwa sebagian kecil masyarakat mungkin merasa tidak memiliki cukup informasi, atau enggan memberikan penilaian secara terbuka. Deni Irvani secara eksplisit menyatakan, “Hanya 13,5 persen publik yang menilai kondisi politik nasional sekarang baik atau sangat baik, sementara yang menilai buruk atau sangat buruk jauh lebih besar, sebesar 42,8 persen.” Pernyataan ini menegaskan kembali jurang pemisah yang lebar antara persepsi positif dan negatif di tengah masyarakat, menyoroti polarisasi pandangan yang mungkin terjadi.
Implikasi Temuan SMRC terhadap Kondisi Politik Nasional Baik
Temuan SMRC ini memiliki implikasi serius bagi stabilitas politik dan kepercayaan publik di Indonesia. Ketika hanya sebagian kecil masyarakat yang merasa Kondisi Politik Nasional Baik, hal ini dapat memicu berbagai tantangan bagi pemerintah dan lembaga politik. Persepsi negatif yang melonjak dari 23 persen menjadi 42,8 persen dalam kurun waktu kurang dari setahun menunjukkan adanya perubahan sentimen yang cepat dan signifikan, yang memerlukan perhatian serius dari para pengambil kebijakan.
Penurunan persepsi positif dari 35,8 persen menjadi 13,5 persen dalam sembilan bulan juga merupakan indikator kuat bahwa ada isu-isu mendasar yang perlu ditangani. Angka-angka ini mencerminkan adanya kekhawatiran yang mendalam di kalangan publik mengenai arah dan kinerja politik di Indonesia, mulai dari kebijakan hingga implementasinya. Penting bagi para pemangku kepentingan untuk memahami akar penyebab dari persepsi negatif ini dan mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaikinya, demi menjaga legitimasi dan efektivitas pemerintahan.
Kepercayaan publik adalah fondasi penting bagi legitimasi pemerintahan, dan ketika fondasi ini terkikis, dampaknya bisa sangat luas, mempengaruhi partisipasi masyarakat, stabilitas sosial, dan bahkan pertumbuhan ekonomi. Survei SMRC ini menjadi cerminan penting yang tidak bisa diabaikan oleh para pemimpin dan pembuat kebijakan. Untuk memahami lebih dalam metodologi dan data lengkap survei, pembaca dapat mengunjungi artikel asli di Tempo.co, yang menyediakan konteks lebih luas tentang bagaimana data ini dikumpulkan dan dianalisis.
Secara keseluruhan, hasil survei SMRC pada Juli 2026 menyajikan gambaran yang suram mengenai pandangan publik terhadap politik nasional. Dengan hanya 13,5 persen yang menilai Kondisi Politik Nasional Baik dan mayoritas besar merasa sebaliknya, jelas bahwa ada pekerjaan rumah besar yang menanti. Tren penurunan persepsi positif yang berkelanjutan dan lonjakan persepsi negatif adalah sinyal yang harus ditanggapi dengan serius oleh semua pihak yang berkepentingan. Membangun kembali kepercayaan dan keyakinan publik terhadap sistem politik akan menjadi prioritas utama di masa mendatang, demi menciptakan lingkungan politik yang lebih stabil dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.