Jumat, 3 Juli 2026, menjadi hari yang menggembirakan bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan sesi pertama di zona hijau, didorong oleh aktivitas beli bersih yang signifikan dari investor asing. Fenomena Investor Asing Masuk IHSG ini memberikan sinyal positif di tengah dinamika pasar global, menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi domestik.
Pergerakan IHSG dan Aksi Beli Investor Asing
Pada penutupan sesi pertama, IHSG melonjak 141,45 poin atau setara 2,46%, mencapai level 5.886,01. Mayoritas emiten mendukung kenaikan ini, dengan 535 saham mengalami kenaikan, sementara hanya 135 saham yang turun, dan 289 lainnya stagnan. Kinerja positif ini terjadi meskipun nilai transaksi harian masih berada di bawah rata-rata, yaitu sebesar Rp 6,42 triliun. Investor memindahkan 10,98 miliar saham dalam 835.000 kali transaksi, dan kapitalisasi pasar juga naik menjadi Rp 10.308 triliun.
Sepanjang perdagangan tengah hari, investor asing menunjukkan minat kuat dengan membeli bersih (net buy) sebesar Rp 160,3 miliar di seluruh pasar. Mereka melakukan total pembelian asing Rp 1,9 triliun, sementara penjualan asing mencapai Rp 1,8 triliun. Aksi beli ini mengindikasikan kepercayaan terhadap prospek pasar domestik di tengah berbagai sentimen global.
Daftar Saham Paling Banyak Diburu Investor Asing
Aksi beli bersih investor asing tidak merata, melainkan terfokus pada beberapa saham unggulan yang dianggap memiliki fundamental kuat atau prospek pertumbuhan menarik. Data pasar menunjukkan sepuluh saham yang investor asing paling banyak beli pada sesi pertama perdagangan hari ini, menjadi indikator penting bagi pergerakan pasar selanjutnya.
Di posisi teratas, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi primadona dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp 91,4 miliar. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyusul dengan Rp 70,2 miliar, dan investor membeli PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 65,2 miliar. Ketiga saham ini, yang merupakan raksasa di sektor perbankan dan energi, secara konsisten menarik minat investor global.
Saham-saham lain yang juga menarik perhatian investor asing meliputi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan Rp 43,9 miliar, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) sebesar Rp 33,0 miliar, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) senilai Rp 32,8 miliar. Kehadiran emiten berbasis komoditas dalam daftar ini menunjukkan optimisme terhadap harga komoditas global.
PT Astra International Tbk (ASII) dengan Rp 25,0 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp 24,6 miliar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) senilai Rp 23,1 miliar, serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan Rp 21,6 miliar melengkapi daftar sepuluh besar. Diversifikasi saham yang dibeli asing ini mencakup berbagai sektor, dari otomotif hingga energi terbarukan dan pertambangan.
Di sisi lain, investor asing juga melepas beberapa saham. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat penjualan bersih tertinggi sebesar Rp 176,0 miliar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan Rp 82,8 miliar, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebesar Rp 56,3 miliar mengikutinya. Investor asing juga menjual saham-saham lain seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Pergerakan jual ini seringkali merupakan bagian dari strategi rotasi portofolio atau pengambilan keuntungan.
Prospek Emiten Pilihan di Tengah Minat Investor Asing
Minat investor asing terhadap saham-saham tertentu seringkali berakar pada prospek fundamental dan katalis positif yang menyertainya. Salah satu emiten yang menarik perhatian adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang masuk dalam daftar pembelian bersih asing. Analis menilai prospek ANTM sangat positif di tahun 2026, terutama karena tren penguatan harga emas global.
Harga emas global yang masih tinggi, bahkan sempat bertengger di level US$4.164 per ons pada 3 Juli 2026, menjadi sinyal kuat bagi perusahaan berbasis komoditas emas seperti ANTM. Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa tren harga emas global yang tetap kuat sebagai aset safe haven di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah adalah katalis positif bagi ANTM. Selain itu, mulai beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) memperkuat segmen bauksit dan alumina. Kelancaran kuota produksi (RKAB) dan pemulihan rantai pasok domestik juga menjadi faktor pendorong.
Segmen emas sendiri merupakan mesin utama pendapatan perusahaan, berkontribusi sekitar 81% dari total pendapatan Antam pada Kuartal I-2026 yang mencapai Rp 23,89 triliun. Ketika volume penjualan ritel naik bersamaan dengan harga premium domestik yang stabil, pendapatan dan laba bersih perusahaan secara otomatis terkerek naik secara signifikan. Dampak ini menjadi katalis positif yang kuat bagi pergerakan saham ANTM, karena pasar merespons pertumbuhan volume penjualan logam mulia yang stabil di atas target manajemen (target penjualan emas tahun 2026 berada di kisaran 43-45 ton). Nafan merekomendasikan “Accumulative Buy” untuk ANTM dengan target harga 3430.
Selain ANTM, saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI yang juga banyak investor asing beli menunjukkan kepercayaan terhadap sektor finansial. Keduanya dikenal sebagai saham blue-chip yang sering menjadi pilihan utama investor institusi. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang bergerak di sektor energi dan pertambangan juga menarik minat, kemungkinan didorong oleh prospek komoditas. Pergerakan IHSG yang melaju kencang di sesi pertama hari ini, didukung oleh aksi beli investor asing, mencerminkan optimisme pasar. Meskipun nilai transaksi keseluruhan masih di bawah rata-rata, fokus pembelian pada saham-saham tertentu menunjukkan strategi selektif dari investor global.
Secara keseluruhan, kinerja IHSG pada 3 Juli 2026 yang ditutup di zona hijau dengan dukungan kuat dari pembelian bersih investor asing, terutama pada saham-saham blue-chip dan emiten berbasis komoditas seperti ANTM, memberikan gambaran positif. Meskipun tantangan seperti potensi kebijakan domestik terkait royalti pertambangan tetap ada, minat investor asing yang berkelanjutan dapat menjadi fondasi bagi penguatan pasar di masa mendatang.
politik, pemerintah, presiden, wakil presiden, kabinet, kementerian, DPR, DPD, MPR, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, KPU, Bawaslu, pilkada, pemilu, partai politik, koalisi, oposisi, reshuffle kabinet, kebijakan pemerintah, regulasi, revisi undang-undang, APBN, APBD, pajak, investasi, inflasi, deflasi, rupiah, Bank Indonesia, OJK, Bursa Efek Indonesia, IHSG, ekspor, impor, UMKM, industri, manufaktur, perdagangan, harga pangan, harga beras, harga cabai, harga BBM, subsidi, ekonomi nasional, ekonomi global, korupsi, KPK, Kejaksaan Agung, Polri, pengadilan, hakim, jaksa, penyidikan, tersangka, penangkapan, penggeledahan, suap, gratifikasi, pencucian uang, tindak pidana korupsi, mafia tanah, mafia migas, kasus pajak, kasus narkoba, kasus pembunuhan, kriminal, pencurian, perampokan, penipuan, judi online, pinjaman online, kebakaran, banjir, gempa bumi, longsor, tsunami, kecelakaan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta, demonstrasi, unjuk rasa, buruh, mahasiswa, HAM, terorisme, keamanan nasional, TNI, Polri, kejaksaan, putusan pengadilan, sidang, vonis, berita viral, fakta terbaru, breaking news Indonesia, isu nasional, konflik lahan, sengketa, pengadaan barang, proyek strategis nasional, IKN, Nusantara, hilirisasi, swasembada pangan, makan bergizi gratis, ketahanan pangan, ketahanan energi, China, Amerika Serikat, perang dagang, tarif impor, hubungan internasional, diplomasi Indonesia.